Google

XL Tingkatkan Konvergensi Komunikasi Dengan UC Cisco

JAKARTA - XL will increase the convergence of telecommunication services in supporting the increased efficiency and productivity in the corporate customer service with Unified Communications (UC).

"For the koporat, the intensity of the higher the communication can not be avoided and is a basic requirement in the operational activities of the company. In this case, corporate customers would need the support of telecommunication solutions that are able to give a total," General Manager Marketing & Product XL Enterprise & Carrier Budi Harjono, through authorized information, Friday (23/1/2009).

UC is the convergence of communication services in cooperation with the results that Cisco will be able to optimize the communication between users anywhere they are. The simple, UC service users can receive calls at any time by using various means of communication owned. Thus, in a smooth communication between users can be protected.

With the ability to access communications at various places and at the same time, the UC services facilitate its users in the speed of decision-making, among others, optimizing the use of instant messenger, video, click to call, and web conferencing. In addition, the benefits of this service is, as if its users are interacting face-to-face as possible to use the video. With the quick and easy decision-making through a 'virtual meeting' will certainly increase corporate productivity.

Not only that, although the Unified Communications service users have a high level of mobility, from the cost savings also become evident as XL Business Solutions to provide integrated solutions with competitive price. Significant efficiency in the use of the services provided by XL Business Solutions is one of the perpetrator from the corporate business can do business without having to spend on transportation and travel. Ends, the ability to increase the ROI (return on investment) to make the benefits of corporate services is Unified Communications.

"With Cisco as a provider of supported applications, we hope this service Unified Communications able to challenge for the telecommunications in the effort to improve corporate efficiency and productivity of business," continued Budi Harjono.

The benefits of the various services of UC XL Business Solutions can be used by a number of business sectors in Indonesia, which provides good and services related to the manufacturing industry. Even at this time, the services of UC XL is ready to be implemented in the banking industry, one of the largest bank in the ground water that has a number of branches that are too big.

Currently XL Business Solutions has been trusted to serve about 2,781 customers from the corporate circles. Excellent services that are presented, among others, a Leased Line, MPLS, Dedicated Internet, VoIP, Corporate Users Group for GSM, and also corporate Managed Services.
read more...

Pelajar Lamongan Ciptakan Helm Komunikator

LAMONGAN - Kabar baik bagi para bikers datang dari kota kelahiran Amrozi, Lamongan. Salah seorang pelajar di kota itu berhasil menciptakan helm komunikator yang mampu membuat pengendara motor dan orang yang diboncengnya bisa berkomunikasi saat berkendara tanpa halangan berarti.

Helm khusus itu disebut Helm Komunikator. Yah, sesuai namanya helm ini mampu membuat pengendara dan penumpang di belakanganya bisa berkomunikasi saat berkendara. Lho kok bisa?

Helm standard yang ada oleh penemu Helm Komunikator hanya diberi tambahan membran dari bahan stetoskop yang biasa dipakai dokter. Setelah itu diberi konektor sehingga pembonceng dan pengendara motor bisa saling berkomunikasi saat kendaraan melaju.

Penemu helm komunikator ini adalah Annora Marsha Sunparta, siswi Kelas 2 SMA Unggulan BPPT Al Fattah, Siman, Lamongan, Jawa Timur. Bersama dua temannya, M Zimamul Adli dan Puguh Sasi Rizky Ramadhan, Nora mendesain helm komunikator ini.

Ide awal penemuan yang meraih medali perunggu ajang International Exhibition for Young Investors (IEYI) di Taiwan ini berawal dari pengalaman pribadi Nora. Mulanya, Nora berboncengan dengan ayahnya yang bernama Suparto pergi ke suatu acara. Dalam perjalan menggunakan motor, berkali-kali ayahnya menyempatkan untuk berbincang, hingga harus menolah ke belakang. Nora pun khawatir mengganggu konsentrasi ayahnya dalam mengendarai motor.

"Dari situlah ide itu muncul. Dua helm pengendara dan pembonceng dihubungkan dengan konektor. Sementara yang berfungsi sebagai penguat suara di dalam helm adalah membrand dari stetoskop," terangnya saat bertemu Bupati Lamongan Masfuk, Selasa (16/12/2008).

Gagasan ini kemudian dituangkan dalam karya ilmiyah remaja tingkat SMA Unggulan BPPT Al Fattah, Lamongan. Dari situ kemudian diikutkan kompetisi tingkat nasional yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dalam seleksi nasional IEYI di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tersebut ide tersebut masuk lima besar.

Kemudian temuan Nora yang diberi nama Communicator Helmed Based on Membrand Vibration atau Helm Komunikator Berbasis Getaran Membran itu diikutkan ajang International Exhibition for Young Investors (IEYI) di Taiwan. Hasilnya meraih medali perunggu tingkat investor remaja internasional. Belum jelas apakah produk temuan Nora ini akan diproduksi massal atau tidak.

Bupati Lamongan Masfuk mengatakan temuan Nora diharapkan mampu memacu semangat pelajar lain untuk berprestasi. "Kami bangga. Semoga ini menjadi semangat bagi yang lain. Hingga melahirkan pelajar Lamongan yang dapat mengukir prestasi nasional," tukasnya.
read more...

Selepas lengsernya CEO sekaligus pendiri Yahoo Jerry Yang. Isu keinginan Microsoft untuk mendekati Yahoo semakin santer terdengar. Bahkan kabarnya, akan ada pembicaraan diantara kedua perusahaan besar itu dalam minggu ini.

Keinginan Microsoft untuk membeli Yahoo semakin mendekati kenyataan. Sebuah sumber menyebutkan, bahwa Microsoft telah menyediakan dana USD20 miliar untuk meleburkan Yahoo ke dalam perusahaan peninggalan Bill Gates tersebut.

"Direktur senior Microsoft dan Yahoo sudah menemui kata sepakat mengenai tawaran yang diajukan. Walaupun belum bisa menjadi jaminan," ujar sumber tersebut kepada Times, Senin (1/12/2008).


Kalau hal ini benar terjadi, maka tawaran yang diajukan oleh Microsoft , merupakan setengah dari apa yang diinginkan Yahoo semasa dipimpin oleh Jerry Yang, Seperti diketahui, Microsoft mencoba mengakusisi Yahoo seharga USD44,6 milliar dalam rangka memenuhi ambisinya untuk menyaingi Google.

Sayangnya, tawaran yang diajukan oleh perusahaan asal Amerika Serikat tersebut dirasa sangat kecil dan tidak sesuai dengan harapan Yahoo yang pede dengan harga USD47,5 miliar.

Penolakan Jerry Yang ini berbuah pahit. Selain, gagal mendapatkan dana segar, saham Yahoo pun langsung anjlok. Akibatnya, Jerry Yang mengundurkan diri dari perusahaan yang telah dibesarkannya tersebut.
read more...

Ringgo Kesulitan Belajar B.Jawa


JAKARTA - Dalam film terbarunya, Ringgo Agus Rahman harus menggunakan bahasa Jawa. Ternyata, kekasih Revalina S Temat ini kesulitan mempelajari bahasa Jawa. Akibarnya, dia dijewer sutradara.

"Gue sempat dijewer sama Bang Herwin (sutradara) gara-gara keselip pakai bahasa Sunda. Padahal, harusnya bahasa Jawa," ujar Ringgo saat ditemui di Jalan Kerinci III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (9/1/2009).

Dalam film terbaru yang berjudul Jagad X Code itu Ringgo harus berperan sebagai seorang pemuda asal Yogayakarta bernama Jagad. Untuk peran tersebut, Ringgo butuh waktu khusus untuk mempelajari bahasa Jawa.

"Gue belajar bahasa Jawa selama satu bulan penuh. Selain itu di luar syuting, gue juga berusaha pakai bahasa Jawa, biar terbiasa," kata Ringgo dengan wajah sok serius.

Selain Ringgo, film ini juga dibintangi beberapa aktor senior seperti Tio Pakusadewo. Ringgo tersanjung bisa akting bareng aktor kawakan tersebut.

"Bermain dengan aktor serius membuat gue banyak belajar dan mendapatkan banyak pengalaman. Gue berusaha keras mengeluarkan semua kemampuan akting gue," tandasnya.
read more...

BUSANA ramah lingkungan primadona 2009


BUSANA ramah lingkungan tampaknya bakal menjadi primadona 2009. Tren ini dipicu oleh isu pemanasan global yang belakangan ramai diusung ke permukaan.

"Saya lihat busana ramah lingkungan jauh memiliki masa depan yang baik di tahun mendatang. Untuk itulah perancang harus mulai menekuni dari sekarang," cerita Ali Charisma kepada okezone, Rabu (17/12/2008).

Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) BPD Bali ini mengatakan, pengolahan bahan tekstil memberikan dampak yang sangat besar terhadap lingkungan. Sebut saja material yang sering kali digunakan sebagai pakaian, seperti nilon maupun polyester.

"Kedua bahan ini terbuat dari bahan petrokimia, yang menjadi salah satu pemicu terjadinya global warming," jelas Ali.

Pernyataan Ali memang bukan isapan jempol belaka. Karena dalam produksinya, nilon dan polyester melepaskan gas nitro oksida ke udara, yang memiliki kemampuan 300 kali lebih besar daripada gas karbondioksida untuk menimbulkan efek rumah kaca. Bukan hanya itu, kedua jenis bahan itu juga sulit didaur ulang.

Mengenai rencana mengembangkan koleksi dengan material bahan ramah lingkungan, Ali mengaku tidak tahun ini. Dia harus melakukan eksperimen secara berulang-ulang untuk menciptakan karya apik dan kaya warna.

"Tidak mudah menghasilkan sesuatu yang benar-benar ramah lingkungan. Semua itu memerlukan proses yang begitu rumit dan saling berkaitan. Selain itu dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk mewujudkannya," tukas perancang yang sukses berbisnis pakaian di Hong Kong ini.
read more...

Resolusi PBB Diabaikan, Hamas-Israel Saling Serang


GAZA - Israel dan Hamas masih saling menyerang meskipun Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) memerintahkan keduanya mengakhiri konflik.

Israel melancarkan lebih dari 50 serangan udara di Gaza, yang disebut layanan darurat Palestina telah menewaskan 12 warga sipil, dan membuat total korban jiwa mencapai hampir 800 orang. Sementara itu, Hamas dan sekutunya menembakkan lebih dari 15 roket ke arah selatan Israel dan melukai satu orang. Setidaknya ada empat roket Grad menghujam Beersheva, 40 km dari Gaza. Tekanan pada kedua belah pihak untuk menghentikan serangan, meningkat dengan dikeluarkannya resolusi DK PBB.

Resolusi tersebut meminta keduanya agar segera melakukan gencatan senjata yang nantinya akan mengarah pada penarikan total pasukan Israel dari Gaza. Israel telah dikritik habis oleh badan-badan PBB, Palang Merah, dan kelompok pemberi bantuan lainnya. Draf resolusi itu juga menyerukan persyaratan tidak terbatas dan distribusi menyeluruh atas bantuan kemanusiaan kepada Gaza, termasuk makanan, bahan bakar, dan perawatan medis. Dalam sidang DK PBB kemarin, 14 dari 15 anggota DK menyetujui draf resolusi itu.

Hanya Amerika Serikat (AS), sekutu utama Israel, yang abstain dan menahan diri untuk tidak memveto resolusi yang disetujui setelah negosiasi panjang antara menteri luar negeri negara Arab dan Barat itu. Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice mengatakan, AS ingin melihat apa yang terjadi pada inisiatif perdamaian dari Presiden Mesir Hosni Mubarak. Mubarak telah mengundang Israel dan Palestina ke Kairo untuk membahas syarat gencatan senjata. Dia mengatakan, Washington mendukung isi resolusi itu.

Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki skeptis terhadap resolusi DK PBB. Menurutnya, resolusi itu tidak membawa akhir bagi kekerasan di Gaza. Dia mengatakan, naif sekali berharap Israel akan segera mematuhi gencatan senjata. Dia khawatir Israel justru akan memperpanjang serangan terhadap Gaza beberapa hari ke depan dengan menghajar beberapa target sebelum gencatan senjata berlaku. "Saya yakin kita akan melihat dalam waktu dua hari ke depan, serangan kejam terhadap warga Palestina dan lebih banyak korban warga Palestina jatuh meskipun resolusi sudah disahkan," kata Al Maliki kepada Al Jazeera.

Hamas belum mengomentari resolusi DK PBB itu. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki moon mengaku lega dengan disahkannya resolusi itu. Ban, yang akan mengunjungi Timur Tengah pekan depan untuk membahas krisis itu, mengatakan bahwa PBB tetap siap dan gencatan senjata akan menjadi langkah awal. Namun, jalan politik tetap dibutuhkan untuk menegakkan keamanan dan perdamaian jangka panjang. Di sisi lain, Prancis yang menjadi broker proposal gencatan senjata usulan Mesir menyatakan resolusi itu melengkapi negosiasi yang dimediasi Kairo. Namun, Paris memprediksi Israel tidak akan segera bertindak.

"Ini bukan akhir cerita. Ketika resolusi ini berlaku, apa yang kita inginkan adalah gencatan senjata dan sisanya. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi," ujar Eric Chevalier juru bicara kementerian luar negeri Prancis kepada BBC. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni berkomentar bahwa Israel akan bertindak hanya berdasarkan kepentingan, keamanan warga, dan haknya untuk membela diri.
read more...

PARA PEWARIS BUMI

Koferensi Perubahan Iklim PBB baru saja berlalu Desember 2007 lalu. Dampak kerusakan lingkungan yang berakibat pada terjadinya pemanasan global di bumi dibahas, dikaji dan dicari jalan keluarnya. Ada negara-negara yang diminta untuk memenuhi janji pengurangan emosi karbon, ada industri yang diminta mencari solusi alternatif anergi dan aa kelompok-kelompok swadaya masyarakat yang mendorong dan mengawal komitmen dan janji peduli lingkungan ratusan wakil negara yang hadir.
Dampak kerusakan lingkungan termasuk pemanasan global pun dibahas. Ada suhu bumi yang semakin meningkat. Ada iklim yang menjadi tak menentu. Ada hewan dan tumbuhan yang terancam kepunahan. Ada penyakit yang mengganas atau bahkan bermunculan. Petani yang mulai sulit menentukan masa tanam dan panen. Kulit dan tubuh manusia semakin rentan penyakit. Hawa yang menghangat juga membiakkan nyamuk pembawa penyakit pada lingkup wilayah lebih luas dan masa hidup lebih panjang.
Lantas saya bisa apa? Saya kan bukan aktivis lingkungan, bukan tokoh masyarakat dan bukan pula orang gedean yang bisa mempengaruhi keputusan di negeri ini. Saya Cuma rakyat biasa. Perempuan biasa. Bahkan saya Cuma seorang pelajar yang tinggal di kota mati. Ngerti apa saya soal pemanasan global? Itu mungkin yang segera terbesit dalam benak sebagian kita.
Ah, lupakah kita bahwa dampak kerusakan lingkungan entah karena pencemaran air, udara, pembabatan hutan yang tak teremajakan, eksplorasi besar-besaran bahan bakar fosil penghasil karbondioksida serta penggunaan zat-zat kimia maupun limbah hasil industri yang berwujud gas-gas rumah kaca, tak hanya menyentuh aktivis lingkungan, tokoh masayarakat, orang gedean atau pemimpin negara. Dampak ini telah menyentuh diri kita semua dan lgi-lagi kita sering lupa sebenarnya disebabkan oleh kita juga.
Sebagian besar kita memang cuma rakyat. Tetapi justru karena itu, sumbangan kerusakan kita pada dunia bias jadi cukup banyak juga. Setiap kali kita menyalakan alat elektronik, menyalakan mesin-mesin kendaraan, menghapus setitik keringat dengan tisu dan kemudian membuangnya, menyemprotkan berbagai spray berbahan baku kimiawi, mengganti bunga-bunga di rumah dengan bunga plastik karena alasan praktisnya, sedikit banyak kita telah menyumbang beban pada dunia kita yang semakin tua ini.
Namun sebenarnya banyak hal pula bisa kita lakukan untuk ikut memperbaiki dan merawat bumi kita ini. Tak perlu berpikir jauh dan susah. Memulainya dengan menghemat listrik, meminimalisir pemakaian plastik, menghijaukan rumah debgan pepohonan, dan meminimalisir penggunaan zat-zat kimia dalam aneka kebutuhan rumah tangga sudah bisa membantu upaya pemeliharaan lingkungan. Dan apa modal yang dibutuhkan untuk menjalani itu semua? Tak jauh dari diri kita sendiri. Hanya kemauan dan konsistensi pelaksanaan. Itu saja, dan dengan begitu kita bisa memberi kehidupan yang lebih untuk anak cucu kita kelak.
read more...

Always With You

Kuhela napas panjang saat pintu lift di depanku perlahan menggeser terbuka. Memperlihatkan kekosongan lantai satu yang menanti diluarnya.

Langkah kakiku keluar kian berat menjejak, dan kusadari betapa letihnya aku. Seharian mengurusi program orientasi siswa baru betul-betul memeras selutuh energiku; rasanya sekarang aku hanya ingin cepat pulang, melempar diri ke atas ranjang, lalu tidur terlelap sampai besok pagi.

Baru dua hari selesai dari total enam hari penuh masa orientasi. Masih ada empat hari penuh keringat dan air mata yang menanti, namun sekujur badanku sudah mulai menjerit-jerit kelelahan.Dan bagaimana bisa si ketua OSIS ceroboh menyebalkan itu masih tega menyerahkan segala tanggung jawab mengurusi acara kebersamaan siswa Jumat nanti kepadaku? As if menjadi pembimbing kelas, pengurus games, dan penghubung tim paduan suara sudah tidak cukup menyita waktu, perhatian, serta tenagaku. Andai saja si bodoh itu punya sedikit saja tempat lebih di otak lemahnya untuk bisa peduli pada penderitaan bawahan tertindas.

Fiuh. Apalah. Yang penting hari ini sudah selesai, dan aku akhirnya bisa pulang. Biarlah masalah itu kupikirkan besok.

Dengan gontai kuseberangi lobi utama lantai satu dengan postman bag favoritku menggantung berat di pundak kanan, mencoba mengusir denyut-denyut mengganggu yang mulai menyerang kepalaku. Keremangan suasana yang familier menyapa penglihatanku. Sudah sore juga rupanya. Selama rapat evaluasi sekaligus beres-beres tadi aku tidak begitu memperhatikan waktu. Kulihat bayangan wajahku membias di salah satu kaca etalase piala yang berdiri disana-sini; ya ampun, aku terlihat berantakan. Rambutku awut-awutan, mukaku pucat, dan ada bulatan hitam menggantung semu di bawah dua mataku.

Aduh. Sudah pusing, capek, jelek, lapar pula. Kusadari aku belum makan apa-apa sejak pagi. Sial. Lebih baik aku bergegas pulang sebelum maag-ku kambuh.

Melewati akuarium ikan besar yang berdiri tegak tepat di samping pintu masuk, sempat kupejamkan mata ketika semilir angin sore lembut menerpa wajahku. Aku selalu suka hembusan angin yang sesekali lewat di daerah lobi, entah mengapa. Dan saat kembali kubuka mata, menatap jauh ke depan, aku terhenti.

Dia. Terduduk diam sendirian di tengah tangga lobi depan. Berpangku tangan, masih dengan setelan putih-birunya, ditemani name tag orientasi norak segitujuh yang tergeletak pasrah bersama ransel biru tua di sisi kirinya.

Tatapanku terkunci pada punggungnya yang lebar, sementara aku melangkah kearahnya bagai tertarik kuat oleh medan magnet tak terlihat. After all this time, aku masih tak bisa menolak pesonanya, yang membuatku tak berdaya. Kesederhanaannya. Begitu tulus, begitu bersahaja.

Aneh. Kenapa dia belum juga pulang?

Dan lidah ini terasa begitu kelu, saat dengan suara bergetar kucoba untuk menyapanya.

“H-hey…”

Hupp. Ia mendongak. Mataku menemui rautnya yang menawan. Rambut pendek acak-acakan. Alis tebal yang menaungi sepasang mata cokelat. Hidung mancung. Bibir bersemu merah muda, merekah sempurna. Dan kulit yang cokelat, terbakar matahari. Sebuah senyum manis kontan melengkapi segala keindahan itu saat ia mengenaliku.

“Hey,” ia balas menyapa, ragu. Suaranya parau, mungkin karena terlalu banyak teriak di sesi permainan tadi.

“Belum pulang?” tanyaku, mencoba terlihat kalem. Meski dalam hati aku setengah mati ingin langsung menerjang dan memeluknya erat-erat.

Ia tertawa kecil sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya, salah tingkah. “Aku… eh, gue lupa bawa kunci rumah,” ucapnya awkward, menghindari tatapan mataku.

Aku ikut tertawa. Kuambil posisi duduk di sebelah kanannya. “Gue?”

Dahinya berkerut. “Ha?”

“Iya. Gue.” Kuangkat alisku, menggodanya. “Well, don’t you mean ‘aku’?”

Ia mendengus, mengangkat bahu. “Kamu yang bilang kita harus jaga jarak di sini,” ucapnya sambil merengut. Duh, lucunya.

“Iya, tapi kan kalo lagi ada orang aja,” jawabku ringan. “Sekarang kan kita sendirian, nggak apa-apa. Lagian nggak enak, kaku-kakuan sama kamu. Pake manggil ‘kakak’ segala lagi. Aneh banget rasanya.”

Kembali ia tergelak seraya mengangguk, walau kubaca masih ada sedikit ragu bercampur cemas membekas di wajahnya.

Diam. Kuarahkan pandang ke depan, menyapu areal parkir sekolah yang hampir kosong dihadapanku. Hanya ada beberapa mobil yang kukenali sebagai kendaraan dinas sekolah masih terparkir disana. Lapangan basket yang terletak tak jauh pun terlihat sepi, tak seperti biasa; segelintir orang yang masih bermain basket disana terlihat berganti-ganti menembakkan bola ke arah ring. Suasana sekolah yang biasanya sibuk terasa amat sunyi di sore hari. Aneh. Tetapi damai.

“Kata teman-temanku, kamu hari ini galak.”

Spontan aku menoleh, menatapnya yang sedang tersenyum nakal dengan pandangan lurus ke depan. Kukerutkan dahi. “Galak? Galak apanya?”

Ia mengangkat bahu. “Nggak tau. Mereka cuma bilang, hari ini kamu lain. Murung terus, jarang senyum, jarang ngomong. Kalau ditanya juga jawabnya sinis. Padahal kemarin kan kamu ramah banget sama semuanya.”

Bayangan wajah si ketua OSIS sialan langsung berkelebat di pikiranku, dan aku pun tersenyum. “Oh, mungkin karena aku lagi sebel sama seseorang kali ya,” ucapku.

“Ha?” Ia tampak kaget. “Sama siapa? Bu-bukan sama aku, kan?”

“Bukan, bukan sama kamu kok,” Kuhela napas panjang. “Ada yang ngasih aku kerjaan tambahan pagi ini, dan aku bingung aja bagaimana cara ngerjainnya.”

“Oh.” Dianggukkannya kepala, lega. “Padahal menurut aku kamu lebih lucu kalau lagi senyum.”

Kudorong bahunya. “Gombal.”

“I’m only being honest here, sweetheart.”

“Whatever. Tetap saja terdengar gombal.”

“Ih.” Rautnya berubah cemberut. “Dibaik-baikin malah ngeledek. Ya udah. Terserah kamu.”

Aku mendelik ke arahnya. “Siapa yang ngeledek?”

“Itu, barusan…” Dipasangnya tampang merajuk. “Ternyata bener. Hari ini kamu galak.”

Kembali diam. Beberapa orang berbaju bebas tak dikenal berjalan melewatiku masuk ke dalam lobi; para alumni yang mau mengambil buku tahunan, mungkin. Tentu saja mereka terrhambat sejenak, dicegat sekaligus ditanya-tanya ketus oleh si satpam wanita menyebalkan yang senantiasa menjagai pintu depan.

Sebuah tawa kecil tak tertahan menyelip keluar dari bibirku. Membuatnya menoleh. “What’s so funny?”

“Tuh, si satpam kepo beraksi lagi,” bisikku.

Ia menoleh ke belakang, melihat orang-orang berbaju bebas tadi sedang adu mulut dengan si satpam. “Whoa. Apa setiap orang yang mau masuk ke dalam gedung sekolah harus melewati tahap itu?” Digelengkannya kepala. “Hari ini udah empat kali aku lihat ada orang nggak dikasih masuk sama dia. Benar-benar sekolah yang aneh.”

“Exactly. Welcome to my world,” Kembali kuhembuskan napas panjang. “I hate to break this to you, honey, tapi kayaknya kamu memilih sekolah yang salah.”

“Mungkin.” Ia mengorek tasnya, mengeluarkan sesuatu yang ternyata adalah sebatang cokelat. Diberikannya cokelat itu padaku yang hanya menatapnya tak mengerti.

“Nih makan, kamu pasti lapar,” ujarnya.

Kuterima cokelat itu dengan bingung. “Kamu… Kok tahu aku lapar?”

Ia tersenyum. “Aku tahu kamu sibuk banget hari ini. Karena sibuk, pasti kamu belum sempat benar-benar makan. Aku kan kenal kamu.”

Kutatap wajahnya. Ada kelembutan di sana, yang kian menggetarkanku, meluluhkanku.

“Thanks…” desahku akhirnya, terharu.

“Anytime. Janji ya, besok walaupun sibuk tetap harus ingat makan.”

“Uhm… Iya, janji.”

Sembari sibuk mengunyah cokelat, sembunyi-sembunyi kucuri pandang ke arahnya, yang masih terduduk manis di sisi kiriku. Aku selalu suka melihatnya dalam balutan kemeja putih dan celana pendek birunya ini. Ia terlihat lucu, childish sekaligus matang. Seakan jejak-jejak kekanakan masih enggan meninggalkannya, walaupun kini ia sudah bisa dibilang beranjak dewasa. Celana pendeknya terlihat kekecilan, begitu juga dengan kemeja putihnya yang kancing paling atasnya dibiarkan terbuka. Angin sore yang masih bersemilir sesekali mengacak-acak rambutnya, mengibarkan ujung kerahnya. Sebuah pemandangan indah yang menggetarkan.

Ah. Jika memang benar ada sesuatu yang bisa dibilang sempurna di seluruh semesta, bolehkah aku menyatakan bahwa dialah kesempurnaan itu? Karena segala hal yang dimilikinya terlihat begitu tak bercela di hadapanku. Manis. Lugu. Irresistible. Charming. Dan bercahaya. Bersinar terang bagai sejuta bintang di langit malam. Mendamaikan hati bak derasnya rinai hujan.

Aku masih ingat sapaan pertamanya di lorong sekolah tiga tahun lalu. Saat dimana aku masih mengenakan setelan putih biru yang serupa dengannya. Sapaan yang dipenuhi suara yang bergetar dan sejuta senyum canggung. Waktu itu, ia nyaris jatuh tertabrak seorang teman yang sedang berlari lewat, karena ia berdiri kaku di tengah-tengah lorong sementara berbicara denganku. Dengan refleks aku sempat menahan pundaknya, mencegahnya jatuh berdebum di lantai. Pandangan kami bertemu, dan sejak saat itulah kurasakan reaksi kimia yang berhasil memercikkan bara cinta antara aku dan dia. Nyala api yang tak padam oleh waktu, namun malah mematangkan esensi. Bukankah itu yang semua orang cari?

Sekarang, saat deru jalannya masa telah lewat berlari cepat, meninggalkan jejak kabur bernama memori, kisah cinta itu masih saja indah bersemi. Hampir tiga putarran musim cerita ini kutulis bersama-samanya. Dan apakah aku bahagia? Ya. Tentu saja.

Seperti saat ini, ketika kuhabiskan soreku duduk berdua dengannya di tangga depan sekolah, menikmati sepoi angin dan lembutnya cahaya matahari yang menerangi.

Tiba-tiba, dalam keheningan yang terjaga baik selama beberapa menit tadi, digenggamnya tanganku.

“Aku senang hari ini,” ucapnya lirih, tulus. “Makasih, ya.”

“Ha?” Kutolehkan kepalaku, bingung. “Senang? Senang kenapa?”

“Karena kamu,” jawabnya.

Aku semakin tak mengerti. “Kenapa karena aku? Aku nggak ngapa-ngapain hari ini. Malah tadi kamu bilang aku hostile. Galak. Whatever. Kenapa karena aku?”

Ia menghela napas. Kembali dirogohnya ransel birunya, mengeluarkan buku catatan harian wajib yang setiap hari harus diisinya. Sebuah prosedur menarik sekaligus unik dari masa orientasi siswa sekolah ini. Dibolak-baliknya halaman demi halaman buku catatan harian bersampul merah tersebut, menemukan sesuatu, lalu diberikannya buku itu kepadaku, masih dalam keadaan terbuka.

“Karena ini,” ujarnya lagi, kembali tersenyum, menyuruhku membaca.

Kuterima buku itu. Kulihat halaman yang membuka. Dan aku tersadar.

Tadi siang, di salah satu sesi siang yang membosankan, aku sempat iseng membuka-buka catatan harian para anggota kelas yang kubimbing. Dan dalam catatan miliknya, di salah satu halaman tengah yang masih kosong, kutulisi beberapa baris penggalan lirik sebuah lagu kenangan berdua. Selalu Denganmu, dari Tompi. Lengkap dengan sebuah smiley imut di pojok kanan, dan deretan huruf ‘ILU’ yang kuukir manis tepat di sebelahnya. Tanpa sadar, aku tersenyum. Aku bahkan lupa kalau aku menulis ini tadi siang; mungkin aku terlalu bosan sekaligus fed up dengan si ketua OSIS terkutuk untuk dapat memfokuskan pikiran.

Kuangkat wajahku, menemui parasnya yang sedang sumringah. Kuangkat alisku, sembari menghela napas panjang, saat sepasang sorot cokelat itu mengunci mataku dalam sebuah tatapan manis, penuh arti.

Aku mencintainya.

Aku sungguh mencintainya.

Aku mencintainya seperti sang rembulan mencintai malam. Seperti matahari mencintai teriknya siang. Aku mencintainya selembut daun-daun kemerahan yang jatuh menumpuk di musim gugur. Sedamai suara debur ombak yang menyapa pasir di garis pantai. Seteguh pohon beringin yang tak bergeming tertiup angin. Seindah titik-titik hujan malam yang turun membasahi tanah.

Dan saat ia berdiri, meraih ransel serta nametag norak segitujuhnya, lalu berbalik menatapku, waktu seakan tersangkut dan berhenti.

“Kamu… Mau kemana?” tanyaku tergagap, tidak siap dengan gesturnya barusan.

Perlahan, diangkatnya bahu. “Where else? Aku mau pulang,” ucapnya. “Udah sore, aku mau istirahat.”

“Tapi, tadi katanya kamu lupa bawa kunci rumah…”

Ia tergelak, mukanya memerah. “Aku… Aku tadi bohong,” desahnya. “Aku cuma mau nungguin kamu, biar bisa ngobrol sama kamu, sebentar, di sini.”

“Ha?” Aku seperti kehilangan kata-kata mendengar kalimatnya. Hatiku diterpa gelombang ketrenyuhan yang amat sangat; aku hanya bisa memandangnya, lembut bercampur haru, sembari tersenyum tulus.

Sebuah tawa kecil pun terselip keluar dari bibirnya. “Sudah ya, aku pulang dulu.”

Kusaksikan sosoknya berjalan gontai menuruni tangga, membiarkanku trerus terdiam terpaku pada punggungnya selagi ia melangkah. Diiringi tiupan angin sore yang menerbangkan ujung kemejanya, menyisir jejak rambutnya, membingkainya dalam satu lagi momen sempurna.

Mengapakah aura itu selalu saja berhasil menghipnotisku, menjadikanku diam tak berdaya di hadapan pesona dirinya?
Mengapakah kehadirannya selalu sanggup menghapus segala keluhkesahku dan membuatku kembali bahagia?

Aku pun tak kuat menahan godaan untuk berteriak memanggilnya sekali lagi. “Hey!”

Ia langsung berbalik, bingung. “Apa?”

“Sampai ketemu besok!” seruku lantang, mengatupkan kedua tangan membentuk corong di sekeliling mulutku sembari tertawa lebar. “Jangan sampai telat lagi ya!”

Tulus, ia ikut tertawa. Memandangku sekali lagi, mengatakan sejuta kata tanpa perlu mengutarakannya dengan barisan kata-kata.

“Iya! Jangan khawatir, sayang…”

…Kaulah matahari dalam hidupku
Dan kaulah cahaya bulan di malamku
Hadirmu s’lalu akan kutunggu
Cintamu s’lalu akan kurindu
Selalu denganmu… Kasihku, slamanya
Selalu denganmu… Cintaku, bersama…
Tahukah kau diriku tak sanggup hidup bila kau jauh dariku?
Kuingin dipelukmu, s’lalu…
read more...